//
you're reading...
friends and families, sampah kecil

keseriusan itu kadaluarsa?

Layaknya blog-blog remaja seumuran saya, akhirnya ada juga topik tentang percik-percik kisah kasih asmara yang muncul di blog ini. Berawal dari kawan yang sedang mengalami proses-proses awal dari suatu kisah kasih asmara, yang dengan ikhlas berkeluh kesah kepada saya (yang notabene sangat tidak berpengalaman di bidang kehidupan yang satu ini, hehe).

Singkatnya, si kawan mengatakan kalau dia sedang mulai menyukai seseorang gadis, lebih tepat akhwat kalau pakai istilah jaman sekarang. Mengingat si kawan ini tidak ada unsur ikhwan-ikhwannya sama sekali (begundal? dikit.. :P), saya pikir “hebat!,  mungkin dia sekarang mulai berpikir untuk membuat hidupnya agak “rapi” dan “terarah”. Sebagai sesama procrastinator dan karepe-dhewe-person, saya sedikit mengerti, memang perlu perbaikan dalam hidupnya dia (dan saya :P hahaha, kok saya jadi ikut-ikutan). Dalam rangka konsolidasi internal inilah, si kawan memanggil saya untuk berbagi pendapat. Pada kasus ini, asumsi yang digunakan adalah, si mbaknya mau. (kalau masih asumsi saja sudah ditolak, apes bener, asumsi dibikin sendiri gitu)

Selanjutnya, dia bilang kalau mau mendekati si mbak itu memang harus serius (bukannya ke semua gadis emang harus serius?), mungkin karena si mbaknya bukan penganut aliran pacaran. Masalahnya, menurut si kawan ini, dia belum berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini  (masih butuh waktu buat nabung? atau buat nyali? :P), pengennya si kawan sih ya kenal dulu sekarang tapi nikahnya nanti. Disini yang menjadi seru, apakah dengan pandangan dia yang semacam itu keseriusannya akan kadaluarsa, alias balik lagi dianggapnya tidak serius? Kalau nunggu nanti waktu sehari sebelum siap nikah, bisa-bisa udah ditelikung orang lain (ckckc, kasian, yang siap nikah udah banyak mas.. hehe). Tapi kalau mencoba sekarang dengan pandangan seperti tadi, bisa-bisa dianggapnya main-main saja (wew, bingung-bingung deh)

Saya tidak meragukan keseriusan si kawan ini, (walaupun dia semi-begundal, :P) untuk beberapa hal tertentu saya bisa yakin terhadap dia. Dua opsi kejadian yang dia prediksikan pun sama-sama masuk akal keduanya, masak karena belum akan nikah terus tidak boleh menyukai gadis, kejam banget ngga tuh.. Tetapi disisi lain kalau harus nikah tergesa ya memang sulit juga, lha belum mau kok dipaksa. Jadi, intinya saya bingung juga. (hahaha, terus apa gunanya saya yang sudah dipanggil jadi dewan pakar untuk problematika ini?)

Yah, kalau memang niatnya baik ya coba saja, sabar dan sedikit-sedikit, toh semua prasangka buruk kita tadi ada jawabannya di dia. Siapa tahu si dia termasuk yang toleran sabar sama calon suami procrastinator macam dirimu :P

ps. tulisan ini didedikasikan untuk seorang kawan, semangat saja ya!

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.

Discussion

3 thoughts on “keseriusan itu kadaluarsa?

  1. ndra ndra..awakmu wis jadi pakar toh..pakar percintaan..mirip roy suryo..:p

    Posted by tofanfadriansyah | March 17, 2010, 7:15 am
  2. kalau udah berani bilang cinta…ya kalo udah siap nikah aja
    kalo belum siap nikah….hmmm, puasa dl aja. hihihi :p

    Posted by gHina | March 17, 2010, 4:56 pm
  3. -topan
    hahaha, engga pan, engga, mana ada pakar kok ga ada hasilnya

    -ghina
    kalau keduluan orang lain gimana ghin?
    kalah gpp kalah tapi setidaknya kan berdarah-darah :P
    atau disini jg berlaku seleksi alam? the fittest is the survivor

    Posted by angin165 | March 17, 2010, 9:03 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

visitors

  • 37,782 hits
%d bloggers like this: