//
you're reading...
sampah kecil

Kemana Garuda Merah Putih terbang?

Saya agak trenyuh ketika baca di salah satu warta berita yang menyatakan bahwa rekomendasi yang dihasilkan dari Kongres Sepakbola Nasional bukanlah sesuatu yang mengikat secara hukum, hanya sebatas tanggung jawab moral. Ah, ditengah pesimisme saya karena tidak adanya ikatan atas rekomendasi yang dihasilkan KSN, saya masih memiliki sedikit optimisme bahwa KSN yang digagas oleh pemerintah ini semoga “mengingatkan” atau saya inginnya ini “menampar” semua personil yang terlibat di persepakbolaan Indonesia. Memang aturan FIFA menyatakan badan sepakbola negara haruslah independen dari campur tangan pemerintah, tapi bukan berarti sepakbola adalah milik para personil yang berkecimpung di sepakbola tersebut. Masih kuat di ingatan kita ketika Mas Hendry Mulyadi (mungkin karena sudah sangat frustasi) masuk ke lapangan dan mencetak gol. Pada satu sisi, mungkin hal itu membuat penilaian buruk dari dunia internasional, tetapi tindakan Mas Hendry adalah “tamparan” keras untuk persepakbolaan Indonesia. Suatu tindakan yang menurut saya mengingatkan semua orang bahwa stakeholder sepakbola Indonesia adalah masyarakat Indonesia, bukan klub, bukan pengurus, dan bukan pemerintah.

Garuda Merah Putih, Piala Asia 2007

Sederhana saja, saya pribadi tidak terobsesi bahwa Timnas Indonesia menjadi juara Asia atau lebih bombastis lagi juara dunia, namun setidaknya arah persepakbolaan Indonesia itu jelas sehingga di ujung sana kita akan melihat suatu proses menuju lebih baik. Kalah – menang semata-mata adalah hasil dari pertandingan, namun setidaknya untuk bisa mendapatkan kesempatan menang proses juga sangat diperlukan. Kalau kita tahu, liga sepakbola profesional sudah berlangsung lebih dari 15 tahun (saya tidak menghitung era Perserikatan dan Galatama, karena di waktu itu saya belum mengerti apa-apa). Pelatih? Pelatih Timnas bukanlah pelatih kacangan yang tidak dapat pekerjaan di tempat lain kemudian memilih melatih sepakbola; tanpa mengurangi rasa hormat saya ke pelatih lokal, pelatih sekelas Peter White dan Ivan Kolev bukanlah nama-nama amatir di persepakbolaan Asia Tenggara, mereka membangun reputasi dari prestasi. Talenta? hampir setiap generasi kita punya talenta muda; mulai dari era Kurniawan, Bima Sakti, Sugiantoro, Kurnia Sandi (yang bersama-sama Widodo CP sempat bikin heboh Piala Asia 1996) dilanjutkan dengan era Bambang Pamungkas, Ellie Aiboy, Budi Sudarsono, Firman Utina, hingga sekarang muncul Boaz Salossa (untuk kali ini mereka juga sempat bikin heboh di Piala Asia 2007). Dukungan? Jangan pernah meragukan 220 juta suporter Merah Putih!

M. Ridwan, vs. Arab Saudi di menit 93

Bahwa sepakbola adalah suatu hal yang penting bagi negara Indonesia adalah fakta nyata menurut saya. Apabila kita mengingat kembali Piala Asia 2007 yang digelar di Jakarta, hanya dalam 3 kali 90 menit (dan waktu tambahan, yang mengalahkan Timnas waktu itu), negara multietnik ini tiba-tiba saja hening dan hanya meneriakkan empat suku kata secara padu: “IN-DO-NE-SIA!” Bukan hanya milik 88 ribu manusia yang menggetarkan Gelora Bung Karno dengan teriakan spartan selama 90 menit, tetapi di depan televisi di rumah, di cafe, di lounge hotel, di warung kopi, di warung tegal, di pos-pos ojek, semua orang ikut berteriak. Lawan mengakui betapa “militan”nya suporter Indonesia ketika itu, dan untuk kali pertama “militansi” itu terbawa ke 11 orang yang mendapat kebanggaan untuk memakai emblem Garuda di dada sebelah kiri mereka. Untuk kali pertama saya melihat Timnas Indonesia bermain kesetanan tanpa memandang yang dihadapi adalah kekuatan-kekuatan besar Asia. Semua orang pasti akan memberikan aplaus panjang tanpa peduli berapa skor di papan kalau melihat Jendry Pitoy yang jatuh bangun di gawang; Syamsul Haerudin yang menabrak siapa saja yang memakai kostum yang berbeda warna dengan kostumnya, Maman Abdurrahman yang “ikhlas” tidak pernah beranjak lebih dari garis tengah lapangan, Firman Utina yang lari bolak balik dari gawang sendiri ke gawang lawan, Bambang Pamungkas yang adu lompatan dengan pemain-pemain yang lebih tinggi 15 cm dari dia, semua pemain lain juga sama. ¬†Seperti itulah sepakbola yang ingin didukung oleh masyarakat Indonesia. Tetapi entah mengapa, hanya 3 kali 90 menit saja itu terjadi?

Apabila “sentilan” yang dilakukan KSN dan Hendry Mulyadi tidak cukup menyentil insan-insan sepakbola nasional, semoga video “rapat akbar stakeholder” berikut bisa “menampar” :)

*gambar diambil dari internet, video dari youtube, hak cipta ada pada pemilik masing-masing.

About angin165

Pria, Indonesia, muda, lajang, belum mapan.

Discussion

2 thoughts on “Kemana Garuda Merah Putih terbang?

  1. kayanya udah gerah banget ya, wind? :D

    Posted by ghina | April 5, 2010, 10:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

visitors

  • 38,408 hits
%d bloggers like this: